BAHAN RAKERNAS III MAKOM ALABAB

  1. Dewasa ini masih terindikasi adanya egoisme Alumni dalam memandang dan menyikapi persoalan dinamika soial yang muncul di tengah masyarakat, sebut saja contohnya pemilu kada, kemudian ada Alumni yang berpotensi ikut dalam pesta demokrasi tersebut, atau bahkan ada yang masih gemar memperdebatkan aspek  khilafiyyah keagamaan. Hal ini dapat difahami mengingat latar belakang Alumnus yang sangat majemuk dan atau ada usur kepentingan yang berbeda. Untuk membangun sebuah komunitas yang solid tentu perlu rumusan kode etik yang dapat dijadikan penduan Alumni, dalam rangka mengusung salah satu tujuan organisasi Makom Albab, yaitu: “menguatkan jiwa korsa sesame alumni Pondok Pesantren Babakan sehingga terwujud ukhuwah Islamiyah, Wathoniyah dan Basyariah.
  2. Berkait dengan hal tersebut di atas (point 1) dengan alasan yang tidak jauh berbeda, terasa hubungan antara Alumni dengan Masyayich/Pengasuh Pondok Pesantren Babakan masih belum terformulasi dengan baik. Dilihat dari hubungan personal, para alumni banyak yang menjadi santri pada generasi Orang Tua Para Masyayich yang sekarang berkiprah mengasuh pesantren, kelihatannya sepele tapi bisa berdampak kepada tradisi, bahwa santri harus tadhim dan samina wa atho’na kepada Kiai. Pada sisi lain, Alumni sebagai bagian yang integral dengan pesantren merasa bangga bila kiprahnya dimasyarakat dapat apresiasi, doa restu, dan dukungan dari Para Masyayich, bukan malah sebaliknya “direcoki”. Nah, disini peranan kita untuk menguras pikiran dan menuangkannya dalam sebuat komitmen bersama, itu pun kalau dipandang perlu, kalau tidak berarti kita termasuk yang menikmati suasana ketidak harmonisan ini.
  3. Makom Albab sekarag ini lagi berbesar hati membusungkan dada karena melalui salah seorang Alumni yang sudah melanglang buana kini berkiprah mencurahkan pikiran dan karya nyatanya untuk membesarkan Albab, Pesantren dan keekonomian Santri. Dalam arti luas Santri ini menurut Prof. Dr. Zaenal Abdin, M.T. adalah Ummat/bangsa, tapi umat itu juga bisa dispesifikkan menjadi Islam. Program yang sudah dilauncing di Pesantren Babakan dan di salah satu Desa di Kabupaten Inderamayu yaitu MASAR = Manajemen Dampah Zero. Albab yang jelas sekarang dan ke depan  harus berperan, oleh karena itu perlu dibuatnaskah praktisi untuk memposisikan peran Albab dalam program ini, karena MASARO ini melibatkan berbagai elemen: Pesantren, Dep Perindustrian dan bisa menggandeng departemen-departemen lain yang punya program linier, ITB, danPemda, serta Lembaga-lembaga dari Luar Negeri sebagai Mitra.
  4. Babakan sudah waktunya mempunyai model pendidikan/pesantren yang unggul dan berdaya saing minimal pada tingkat Nasional, dengan tetap memiliki kekhashan. Disisni Alumni perlu mendorong dan membantu mendesain kurikulum dan aspek-aspek lainnya sesuai dengan 8 (delapan) standar pendidikan Nasional. Dan mengkomunikasikannya dengan pengasuh pesantren yang merespon untuk dijadikan percontohan model ini.
  5. Bidang Kesekretariatan; belum didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai sehingga capaian sasaran programnya belum optimal. Salah satu tugas yang cukup berat bidang kesekretariatan adalah menyediakan lahan dan membangun Sekretariat Makom Albab. Untuk menangani pengadaan lahan Sekretariat ini sudah dibentuk tim, namun belum memperoleh hasil yang konkrit. Kendala yang dihadapi antara lain:
  • Sulitnya mencari Lokasi yang strategis di Sekitar Pondok Pesantren Babakan.
  • Belum ada anggaran yang cukup untuk membeli lahan dan membangun Sekretariat

          Menyikapi kendala di atas muncul beberapa pemikiran yang terekam dari diskusi atau obrolan2an Albab tidak resmi, bahwa pembangunan Sekretariat Makom Albab sebaiknya tidak di sekitar Pondok Pesantren Babakan. Pemikiran ini cukup beralasan karena  pada  2  ayat (1) ART Makom Albab.yaitu: “Makom Albab Pusat berkedudukan di Babakan Ciwaringin Cirebon, dan dalam keadaan tertentu dapat berada di Ibu Kota Negara RI (Jakarta) atau di tempat lain yang ditetapkan berdasarkan Rapat pengurus Pusat”.i disamping alasan di atas,  juga untuk menghindari munculnya permasalahan baru baik internal  dilingkungan Alumni sendiri maupun di kalangan Masyayich.

          Satu gagasan yang dilontarkan dalam Rakernas ini, bahwa pembangunan Sekretariat Makom Albab harus terlepas dari kepentingan-kepentingan dan Makaom Albab harus bisa berdiri sendiri. Terimakasih apabilla ada dermawan yang akan membantu melepas kendala ini, akan tetapi statusnya harus jelas yaitu dengan cara hibah, sehingga secara  legal formal tanah maupun bangunan tersebut sah secara hukum milik Makom Albab. Alternative pemikiral lain, kita perioritastan untuk memiliki lahan terlebih dahulu dengan cara membeli (bagi renteng atau system lelang dan atau bantuan yang tidak mengikat). Posisi lokasi Sekretariat ada dua pilihan , yaitu:

  1. di Wilayah Kecamatan Arjawinangun, karena ke dapan tidak tertutup kemungkinan Cirebon akan menjadi Ibukota Provinsi dan di Ajawinangun  akan dibangun kampus III ITB.
  2. di  Wilayah Kecamatan Kertajati Kabupaten Majalengka, sangat strategis dan prosfektif  karena tengah dibangun BIJB (Bandara International Bandung Jawa Barat, menurut informasi bulan Juli 2018 sudah operasional dijadikan embarkasi Haji Jawa Barat.
  3. Sekretariat dirancang-bangun dalam satu kawasan Albab Terpadu.

 

2-3 DESEMBER 2017

PANITIA

Rakornas III

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *